Senin, 02 April 2012

Manfaat Membaca Dalam Karya Tulis Ilmiah


BAHASA INDONESIA

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Oleh
Fitri Purnama
NIM : 41032151 11 1019





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA
BANDUNG
2012


Manfaat Membaca Dalam Karya Tulis Ilmiah

Pendahuluan
Beberapa waktu yang lalu, dunia akademisi dikejutkan dengan turunnya surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 27 Januari 2012 berkaian dengan kewajiban publikasi karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 yang diberlakukan bagi mahasiswa yang lulus setelah Agustus 2012.  Dasar dikeluarkannya kewajiban publikasi di jurnal ilmiah ini adalah untuk mendorong budaya menulis bagi para lulusan perguruan tinggi. Dalam Surat Edaran tersebut, karya ilmiah untuk lulusan program sarjana (S-1) harus dimuat di jurnal ilmiah minimal kampus, program magister (S-2) harus dimuat dalam jurnal ilmiah nasional yang terakreditasi Dikti dan program doktor (S-3) harus dimuat di jurnal internasional.
Surat edaran tersebut menjadi perhatian serius khususnya mahasiswa maupun dosen. Ada nada pesimistis bahkan cibiran yang sebenarnya lebih kepada nuansa ketidaksiapan atau mungking penolakan. Padahal sejatinya dunia akademik tidak dapat dipisahkan dari kegiatan membaca yang diikuti oleh kegiatan menulis. Hal tersebut ditengarahi oleh rendahnya budaya membaca dan menulis dikalangan dunia akademik.

Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ini yaitu  untuk mengkaji dan menelaah manfaat dari membaca dalam menulis karya tulis ilmiah.

Manfaat
Manfaat dari penulisan karya tulis imiah ini yaitu dapat memberikan kontribusi praktis dalam memberikan gambaran berkaitan dengan manfaat membaca dalam penulisan karya tulis ilmiah.

Metodologi
Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini didasarkan kepada kajian literature atau kepustakaan yang relavan dengan tujuan penulisan.

Membaca
Membaca merupakan
Gleen Dooman (1991:19 dalam Nashihuddin,2010) dalam bukunya “How to Teach Your Baby to Read” menyatakan bahwa membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup, bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Bangsa kita tergolong sebagai bangsa yang rendah dalam hal membaca. Berbeda dengan bangsa Jepang  ataupiun Israel yang telah memiliki budaya baca yang tinggi. Berdasarkan Nashihuddin (2010 dalam http://edukasi.kompasiana.com),  menyebutkan bahwa beberapa indikator terhadap minat baca masyarakat indonesia masih relatif rendah. Adapun data tersebut didasakan kepada kajian literatur dan artikel yang dapat dilihat sebagai berikut;
  1. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2006, yang menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. orang lebih banyak tertarik dan memilih menonton TV (85,9%), radio (40,3%), dan membaca koran hanya 23,5%
  2. International Education Achiecment (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD di Indonesia berada pada urutan 38 dari 39 negara peserta studi, yang berarti Indonesia menempati urutan ke-38 dari 39 negara
  3. Third International Mathematics and Science Study (TIMMS), kemampuan matematika para siswa SLTP kita berada pada urutan 34 dari 38 negara dan kemampuan IPA berada pada urutan 32 dari 38 negara. Berdasarkan data tersebut, Education for All Global Monitoring Report tahun 2005, Indonesia merupakan negara ke-8 dengan populasi buta huruf terbesar di dunia, yakni sekitar 18,4 juta orang buta huruf di Indonesia (kompas 20 Juni 2006). Rendahnya kemampuan membaca anak-anak berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasaan bidang ilmu pengetahuan dan matematika.
  4. Hasil Studi dari Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah laporan Pendidikan “Education in Indonesia From Crisis to Recovery” tahun 1988, yang menyebutkan bahwa kemampuan membaca anak-anak kelas VI SD hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5)
  5. United Nations Development Programme (UNDP) menjadikan angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) sebagai barometer pengukur kualitas suatu bangsa. Hal itu juga berpengaruh pada tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia (Human Development Index), dimana menempatkan Indonesia berada pada urutan ke-110 dari 177 negara-negara di dunia (Human Development Report 2005). Beberapa hasil kajian dan laporan UNDP dapat disimpulkan bahwa “kekurang-mampuan anak-anak indonesia dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta tingginya angka buta huruf dewasa karena membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa
  6. Konsumsi surat kabar untuk 45 orang (1:45). Di Jawa Barat, buta huruf masyarakatnya mencapai 1,8 juta orang dan Banten 1,4 juta dari 8 juta warganya. idealnya satu surat kabar dibaca oleh 10 orang atau dengan ratio 1:10
  7. Pikiran Rakyat (8 Maret 2004), menyebutkan bahwa jam bermain anak-anak Indonesia masih tinggi, yakni lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menonton acara TV. Di Amerika, jam bermain anak-anak dibatasi antara 3-4 jam perhari, sedangkan di Vietnam hanya 1 jam, selebihnya digunakan untuk membaca dan belajar.

Menurut Hasnum (2004), kegiatan membaca memberikan berbagai keuntungan yang diantaranya adalah sebagai berikut;
  1. Pengetehuan kita semakin bertambah
  2. Dengan membaca kita dilatih untuk menghadapai dan memecahkan masalah
  3. Membaca dapat menuntun kita kearah yang lebih dewasa dan efektif
  4. Membaca melatih seseorang untuk berpikir sistematis dan kreatif

Menulis Karya Tulis
Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Morsey (1976 dalam Tarigan, 1982) menyebutkan bahwa menulis dipergunakan untuk melaporkan, membertahukan, dan mempengaruhi yang hanya dapat dicapai ketika dapat menyusun pikirannya dengan mengutarakannya denga  jelas baik pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, maupun struktur kalimat.
Karya tulis merupakan karangan yang mengetengahkan hasil pikiran, hasil pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu, yang disusun menurut metode tertentu secara sistematis. Oleh karena itu, karya tulis memiliki ciri tertentu yaitu logis, sistematis dan obyektif. Karya tulis dikatakan logis apabila data, argument, penjelasan yang dikemukan diterima oleh akal. Sistematis yaitu setiap permasalahan yang diuraikan disusun secara teratur, runtut, tidak tumpang tindih. Sedangkan obyektif adalah memiliki alas an, keterangan, penjelasan dan uraian-uraian yang dikemukakan sesuai apa adanya.

Membaca Untuk Menulis Karya Tulis
Membaca dan menulis merupakan diantara empat komponen keterampilan berbahasa. Antara menulis dan membaca terdapat hubungan yang sangat erat. Bila kita menuliskan sesuatu, pada prinsipnya kita menginginkan agar tulisan kita dibaca oleh orang lain atau paling tidak untuk konsumsi diri kita sendiri untuk dibaca.

Kesimpulan
Menulis merupakan proses panjang sebagai wujud interpretasi pemikiran dari informasi. Kemampuan yang rendah dalam menyerap informasi akan menyulitkan dalam penyusunan karya tulis.

Daftar Pustaka
Hasnun, Anwar. 2004. Pedoman dan Petunjuk Praktis Karya Tulis. Penerbit Absolut. Yogjakarta
Nashihuddin, Wahid. 2010. Rendahnya Minat Baca Masyarakat Kita…?. Tersedia [online]:http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/21/rendahnya-minat-baca-masyarakat-kita. [ 28 Maret 2012]
Resmini, Novi. 2007. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. UPI Press. Bandung
Tarigan, H. G. 1982. Menulis Sebagai Keterampilan Berbahasa. Penerbit Angkasa. Bandung

Selasa, 06 Maret 2012

Hal yang Menyenangkan dan Kurang Menyenangkan Selama Mengikuti Perkuliahan Bahasa Indonesia

 
Nama             : FITRI PURNAMA
NIM              : 41032151111019
Prodi             : Pendidikan Matematika
Tugas ke-2

Selama mengikuti perkuliahan bahasa Indonesia hal yang paling menyenangkan bagi  saya adalah ketika ibu Isna membiasakan  untuk menulis. Sebenarnya saya suka menulis, meskipun kemampuan menulis saya memang masih sangat kurang. Namun dengan terus membiasakan diri untuk menulis, bukan tidak mungkin dapat meningkatkan kemampuan menulis saya. Awalnya tidak biasa namun lama-lama dapat terbiasa  juga.
Menulis juga tidak selalu menyenangkan ,apalagi  ketika menulis harus terpaku dengan bahasa Indonesia yang baku. Karena tidak terlalu menguasai bahasa Indonesia yang baku membuat saya bingung untuk memilih kosakata yang benar. Hal itulah yang menurut saya kurang menyenangkan selama saya mengikuti perkuliahan bahasa Indonesia.

Minggu, 26 Februari 2012

Mengapa Kita Harus Mempelajari Bahasa Indonesia?

 
Nama            : FITRI PURNAMA
NIM              : 41032151111019
Prodi             : Pendidikan Matematika
Semeter        : 2 ( dua )

Membosankan!
Mungkin itulah tanggapan awal bagi siapapun yang mempelajari bahasa Indonesia. Hal tersebut wajar karena dari SD (Sekolah Dasar) sampai dengan Perguruan Tinggi khususnya tingkat sarjana atau strata-1 masih juga mempelajari bahasa Indonesia. Seolah-olah, tidak ada ketuntasan dalam mempelajarinya. Namun, pikiran sederhana saya juga awalnya berfikir seperti itu. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari bahasa kita adalah bahasa Indonesia.
Berdasarkan surat Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 27 Januari 2012 yang ditujukan kepada rektor/ketua/direktur perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia tentang kewajiban memublikasikan karya ilmiah ke jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Untuk  lulus program sarjana, harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah.
Surat edaran tersebut paling tidak dapat memberikan kita acuan bahwa, untuk menghasilkan karya tulis khususnya pada tingkatan sarjana harus benar-benar menguasai bahasa Indonesia. Tanpa penguasaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan tidak mungkin hasil karya tulis kita tidak dapat terpublikasi. Hal ini menjadikan bahasa Indonesia sebagai modal yang sangat penting bagi media pembentukan kepribadian dan mengembangkan budaya ilmiah khususnya melalui penerbitan karya tulis ilmiah.
Bukan hanya sebagai modal untuk menulis karya ilmiah saja. Mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara tulisan ataupun lisan, juga  agar kita mahasiswa sebagai penerus bangsa memiliki suatu rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia dan peduli akan bahasa negeri kita sendiri yaitu bahasa Indonesia. Jangan sampai bahasa Indonesia menjadi bahasa yang asing di negerinya sendiri. Jadi untuk itu tidak boleh ada kata bosan mempelajarinya karena inilah alasan mengapa kita masih harus terus mempelajari dan menguasai betul bahasa Indonesia.

Sumber :
  1. http://isna-sulastri2012.blogspot.com/
  2. http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/23/mengapa-saya-harus-belajar-bahasa-indonesia/
  3. http://uchie-kawaii.blogspot.com/2010/02/mengapa-kita-harus-belajar-bahasa.html